Februari milikku.

Dear February.

Selamat datang Februariku,
lama sekali aku menunggu saat ini datang, saat gerbang baru ini terbuka.
Kau masih ingat 24 Februari 3 tahun yang lalu?
Saat itu hujan mengguyur kita yang sedang masih saling tersipu, aku memeluk tubuh hangatmu di atas motormu kala itu, kau menyentuh jari-jariku yang menggigil, kaku, pucat. Aku membalas dekap erat jemarimu dengan dada yang berdegup, pipi yang tersipu, serta fikiran-fikiran indah yang terbang ke langit yang sengaja kau bangun untuk kita.

Ketika sampai di rumah, aku mempersilahkan kau duduk di depan, tempat biasa aku tersenyum dan malu-malu membayangkan kamu, sambil kita melihat bulan yang sama di tempat berbeda. Kali ini ada kamu di depan mata. Aku berjalan masuk dan membawakan handuk untukmu, serta minuman hangat. Lucu sekali wajahmu ketika kedinginan itu, ingin sekali merengkuhmu dalam hangatku, namun aku belum halal untuk melakukan itu. Aku hanya berusaha tersenyum, meski itu tak menghangatkan setidaknya kau tenang dan tersenyum juga. Disitu, kau bertanya soal pertanyaan semalam yang belum aku jawab "kamu mau jadi pacarku?" aku menjawab pertanyaan itu dengan pipi yang merona, menunduk, aku malu.

Semenjak hari itu, kamu jadi milikku begitu sebaliknya.

1 Februari tahun ini, berbeda sekali dengan ketika kamu masih disini, senyummu bukan lagi milikku, jangankan senyuman, membalas tweetku pun kau sudah tak sudi.

Tuan, kau sedang dalam pelukan seorang yang begitu dekat denganku dulu, dia tempat dimana aku berkeluh, aku juga tak menyangka perkenalan kalian yang begitu singkat itu, dapat di tepisnya dengan cara se perih ini. Aku marah, kecewa, sedih. Namun, tak serta merta karena kamu tuan, aku hanya tak menyangka, kamu yang begitu aku cintai seluruhnya bisa berjalan dengannya, se tega itu kamu? kalian?

terimakasih tuan, atas segala mimpi kita yang terabaikan
terimakasih nona, kau telah mengenalkan aku mana teman yang baik atau tidak.

Kelak akan kutemukan bahagiya sendiri, pun kamu bilamana nanti.
 

Comments