nada
sudah ratusan kali saya mencoba untuk tidak mendengar lagu itu, lagu yang tak lebih penting dari suara gemercik air yang begitu membuat aku ketagihan, suara yang tak lebih penting dari gelak tawa bayi yang membuat saya bahagiya. Saya membencinya bukan karena bosan, saya benci ketika musik itu di putar, otak ini bekerja dengan ekstra untuk memutar adegan-adegan kita DAHULU, iya dulu waktu kita masih sama-sama.
kamu dengan anehnya bernyanyi di atas motor lalu aku melanjutkan bait demi baitnya, ini bukan lagi soal kenangan, tapi ini tentang sesuatu yang tak dapat di ulang, saya menyebutnya ini luka, tapi Tuhan selalu membawa saya pada saat-saat indah kita, saat aku menarik senyum, mengambil kamera dan kita berfoto bersama, saat cerita aku dan kamu menjadi kalimat berbeda, kita melebur menjadi kita, saling membahagiyakan, saling menolong, bertengkar karena aku tak ingin kamu sakit meski hanya bersin, berdebat karena kau selalu susah untuk minum obat dan menjaga staminamu.
Otakku selalu bekerja ekstra tiap menit saat alunan solmisasi itu begitu indah terdengar, bukan karena aku menghafal notasinya, bukan aku menghafal liriknya, tapi karena kamu selalu menari-nari di otakku, entah kali ini sosokmu berubah menjadi not-not balok yang sulit di baca itu, atau aku sudah adiksi?
kamu dengan anehnya bernyanyi di atas motor lalu aku melanjutkan bait demi baitnya, ini bukan lagi soal kenangan, tapi ini tentang sesuatu yang tak dapat di ulang, saya menyebutnya ini luka, tapi Tuhan selalu membawa saya pada saat-saat indah kita, saat aku menarik senyum, mengambil kamera dan kita berfoto bersama, saat cerita aku dan kamu menjadi kalimat berbeda, kita melebur menjadi kita, saling membahagiyakan, saling menolong, bertengkar karena aku tak ingin kamu sakit meski hanya bersin, berdebat karena kau selalu susah untuk minum obat dan menjaga staminamu.
Otakku selalu bekerja ekstra tiap menit saat alunan solmisasi itu begitu indah terdengar, bukan karena aku menghafal notasinya, bukan aku menghafal liriknya, tapi karena kamu selalu menari-nari di otakku, entah kali ini sosokmu berubah menjadi not-not balok yang sulit di baca itu, atau aku sudah adiksi?
jika kau masih ingat tepat hari ini
aku dan kamu bertemu di bawah rinai hujan
seusai memoar senja
Comments
Post a Comment