3 tahun lalu..
24 Februari 2010
Hari ini kamu menatapku dengan mata yang berseri-seri, hujan rintik-rintik tak memadamkan api semangatku untuk tetap di dekatmu, mata sipitmu yang begitu lucu ketika kau tertawa, tubuh besarmu yang sangat identik dengan seorang pemain basket pada umumnya, membuat sosokku sedikit tenggelam di belakangmu. Hujan pun mendadak semakin deras membasahi kita, aku menggigil di belakangmu kala itu, kamu meraih tanganku, merengkuhnya perlahan, usahamu sukses untuk menenangkan dan menghangatkanku. Sesampai di rumah, kamu lagi-lagi menanyakan pertanyaan itu, seharusnya kamu tau setiap pertanyaan yang kamu lontarkan "apa harapanmu tahun ini?" aku ingin cepat-cepat menjawab "kamu". Hari demi haru bahkan lewat dari 12 bulan harusnya kamu tau, kamu tersusun lebih dari jutaan virus flu yang sempat menyerangku berkali-kali. Harusnya kamu sadar, kalo saya bisa memilih, saya meminta Tuhan untuk memiliki rumah yang bersebelahan dengan rumahmu, agar aku tak merasakan rindu yang mencekik setiap detiknya.
24 Februari 2013
Sudah lebih dari satu hasta rasanya saya berkenalan dengan kamu, saya terlalu kenal dan tau kamu, saya terlalu hafal apa-apa tentang kamu, saya terlalu... ah sudah! kamu terlalu nyata untuk saya pun, bahkan saya masih saja bermimpi berulang kali meyakinkan kamu kalau dia yang sedang dalam genggamanmu tak jauh lebih baik daripada aku! Kamu ingat ini tanggal berapa? Kamu ingat tiga tahun yang lalu ada kejadian apa? Yang mungkin kamu ingat adalah kita pernah ketemu tanggal itu! Otakku selalu berlebih, mengutuk benih-benih soal kamu, dan menuai buahnya setiap rindu dan rintik hujan membasahi jendela, entah saat-saat itu selalau terselip apa-apa seputar kamu dan kita yang dulu. Bahkan saat menulis ini pun aku ingat betul seluruh kejadian manis dan pahit kita dulu. Yah, mungkin kamu sedang sangat mencintai dia, selamat! Karena dia bisa membuatmu satu-satunya sekarang. Salam yah untuk pacar barumu, bilang padanya, aku telah melepaskan kamu, tapi tidak dengan melepaskan keikhlasanku. Malam.
Hari ini kamu menatapku dengan mata yang berseri-seri, hujan rintik-rintik tak memadamkan api semangatku untuk tetap di dekatmu, mata sipitmu yang begitu lucu ketika kau tertawa, tubuh besarmu yang sangat identik dengan seorang pemain basket pada umumnya, membuat sosokku sedikit tenggelam di belakangmu. Hujan pun mendadak semakin deras membasahi kita, aku menggigil di belakangmu kala itu, kamu meraih tanganku, merengkuhnya perlahan, usahamu sukses untuk menenangkan dan menghangatkanku. Sesampai di rumah, kamu lagi-lagi menanyakan pertanyaan itu, seharusnya kamu tau setiap pertanyaan yang kamu lontarkan "apa harapanmu tahun ini?" aku ingin cepat-cepat menjawab "kamu". Hari demi haru bahkan lewat dari 12 bulan harusnya kamu tau, kamu tersusun lebih dari jutaan virus flu yang sempat menyerangku berkali-kali. Harusnya kamu sadar, kalo saya bisa memilih, saya meminta Tuhan untuk memiliki rumah yang bersebelahan dengan rumahmu, agar aku tak merasakan rindu yang mencekik setiap detiknya.
24 Februari 2013
Sudah lebih dari satu hasta rasanya saya berkenalan dengan kamu, saya terlalu kenal dan tau kamu, saya terlalu hafal apa-apa tentang kamu, saya terlalu... ah sudah! kamu terlalu nyata untuk saya pun, bahkan saya masih saja bermimpi berulang kali meyakinkan kamu kalau dia yang sedang dalam genggamanmu tak jauh lebih baik daripada aku! Kamu ingat ini tanggal berapa? Kamu ingat tiga tahun yang lalu ada kejadian apa? Yang mungkin kamu ingat adalah kita pernah ketemu tanggal itu! Otakku selalu berlebih, mengutuk benih-benih soal kamu, dan menuai buahnya setiap rindu dan rintik hujan membasahi jendela, entah saat-saat itu selalau terselip apa-apa seputar kamu dan kita yang dulu. Bahkan saat menulis ini pun aku ingat betul seluruh kejadian manis dan pahit kita dulu. Yah, mungkin kamu sedang sangat mencintai dia, selamat! Karena dia bisa membuatmu satu-satunya sekarang. Salam yah untuk pacar barumu, bilang padanya, aku telah melepaskan kamu, tapi tidak dengan melepaskan keikhlasanku. Malam.
hay banana , bagus postingan nya :)
ReplyDelete